Category: Berita

  • Potensi Besar Ekspor Kopra Indonesia: Peluang dan Persyaratan dalam Pasar Global

    Potensi Besar Ekspor Kopra Indonesia: Peluang dan Persyaratan dalam Pasar Global

    Ekspor kopra dari Indonesia terus mengalami pertumbuhan pesat, dengan potensi keuntungan yang menjanjikan. Kopra diekspor ke negara-negara seperti :

    1. Malaysia
    2. India
    3. Filipina
    4. Bangladesh
    5. Pakistan
    6. Thailand
    7. Singapura
    8. Taiwan
    9. Tiongkok dan 
    10. Myanmar

    sementara produk turunannya memiliki nilai jual tinggi dan peluang besar untuk dipasarkan secara global. 

    Kopra, yang berasal dari kelapa kering, diproduksi melalui proses pemisahan daging kelapa dari cangkangnya sebelum dikeringkan. Komoditas ini menjadi bahan baku utama dalam pembuatan minyak kelapa, yang kemudian diolah menjadi Crude Coconut Oil (CCO). Minyak kelapa digunakan secara luas dalam industri makanan, kosmetik, dan perawatan tubuh. Selain itu, kopra juga berperan sebagai bahan baku di industri pakan ternak 🐄 dan makanan.

    Indonesia menjadi salah satu negara tropis dengan produksi kopra yang signifikan, menempati posisi ketiga sebagai penghasil kopra terbesar di dunia setelah Papua Nugini dan Thailand. Potensi ekspor kopra terus meningkat seiring dengan permintaan produk olahan kelapa yang terus naik 🌱. Kopra dikategorikan sebagai bahan baku industri dan tidak langsung dikonsumsi sebagai makanan.

    Selain sebagai bahan baku minyak kelapa, kopra dari Indonesia juga digunakan dalam industri biodiesel serta makanan dan pakan ternak. Menurut sumber dari DJPEN Kemendag, dengan kode HS 120300, nilai ekspor kopra Indonesia mengalami tren kenaikan sebesar 2% per tahun 📈, yang menunjukkan potensi pertumbuhan yang stabil.

    Bagi eksportir yang ingin memasuki pasar kopra, mereka harus memenuhi syarat karantina tumbuhan untuk memastikan produk bebas dari Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) dan memperoleh Sertifikat Fitosanitari sebagai jaminan keamanan. Dokumen-dokumen penting lainnya yang harus dipenuhi mencakup : 

    • NPWP, 
    • Identitas kepabeanan, 
    • SIUP, 
    • Invoice, 
    • Surat Keterangan Asal Barang (SKAB), 
    • Bill of Lading, 
    • Bukti Fumigasi, dan 
    • Sertifikat Asal Produk (SAP). 

    Kepatuhan terhadap regulasi ini sangat penting untuk memastikan kelancaran proses ekspor.

    Kombinasi dari potensi besar dan regulasi yang jelas membuat ekspor kopra Indonesia terus berkembang dan siap memenuhi permintaan global yang semakin meningkat.Ekspor kopra dari Indonesia terus mengalami pertumbuhan pesat, dengan potensi keuntungan yang menjanjikan. Kopra diekspor ke negara-negara seperti :

    1. Malaysia
    2. India
    3. Filipina
    4. Bangladesh
    5. Pakistan
    6. Thailand
    7. Singapura
    8. Taiwan
    9. Tiongkok dan 
    10. Myanmar

    sementara produk turunannya memiliki nilai jual tinggi dan peluang besar untuk dipasarkan secara global. 

    Kopra, yang berasal dari kelapa kering, diproduksi melalui proses pemisahan daging kelapa dari cangkangnya sebelum dikeringkan. Komoditas ini menjadi bahan baku utama dalam pembuatan minyak kelapa, yang kemudian diolah menjadi Crude Coconut Oil (CCO). Minyak kelapa digunakan secara luas dalam industri makanan, kosmetik, dan perawatan tubuh. Selain itu, kopra juga berperan sebagai bahan baku di industri pakan ternak 🐄 dan makanan.

    Indonesia menjadi salah satu negara tropis dengan produksi kopra yang signifikan, menempati posisi ketiga sebagai penghasil kopra terbesar di dunia setelah Papua Nugini dan Thailand. Potensi ekspor kopra terus meningkat seiring dengan permintaan produk olahan kelapa yang terus naik 🌱. Kopra dikategorikan sebagai bahan baku industri dan tidak langsung dikonsumsi sebagai makanan.

    Selain sebagai bahan baku minyak kelapa, kopra dari Indonesia juga digunakan dalam industri biodiesel serta makanan dan pakan ternak. Menurut sumber dari DJPEN Kemendag, dengan kode HS 120300, nilai ekspor kopra Indonesia mengalami tren kenaikan sebesar 2% per tahun 📈, yang menunjukkan potensi pertumbuhan yang stabil.

    Bagi eksportir yang ingin memasuki pasar kopra, mereka harus memenuhi syarat karantina tumbuhan untuk memastikan produk bebas dari Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) dan memperoleh Sertifikat Fitosanitari sebagai jaminan keamanan. Dokumen-dokumen penting lainnya yang harus dipenuhi mencakup : 

    • NPWP, 
    • Identitas kepabeanan, 
    • SIUP, 
    • Invoice, 
    • Surat Keterangan Asal Barang (SKAB), 
    • Bill of Lading, 
    • Bukti Fumigasi, dan 
    • Sertifikat Asal Produk (SAP). 

    Kepatuhan terhadap regulasi ini sangat penting untuk memastikan kelancaran proses ekspor.

    Kombinasi dari potensi besar dan regulasi yang jelas membuat ekspor kopra Indonesia terus berkembang dan siap memenuhi permintaan global yang semakin meningkat.

    Sumber : 

    https://smesta.kemenkopukm.go.id/news/potensi-besar-ekspor-kopra-indonesia-peluang-dan-persyaratan-dalam-pasar-global

  • Harga Kopi Dunia Ugal-ugalan: Imbas Kiamat Alam Apa Upah Spekulan?

    Harga Kopi Dunia Ugal-ugalan: Imbas Kiamat Alam Apa Upah Spekulan?

    Jakarta, CNBC Indonesia- Harga kopi terus melambung, menciptakan sensasi di pasar komoditas. Lonjakan harga kopi yang terus menerus ini juga menimbulkan kekhawatiran sekaligus pertanyaan.

    Berdasarkan data Refinitiv, harga kopi kontrak berjangka (KCc2) pada 7 Februari 2025 ditutup di US$396,7 per pon, melonjak tajam dibandingkan awal tahun yang hanya US$322,1 pada 2 Januari 2025. Bahkan, jika ditarik lebih jauh, harga kopi pada 19 November 2024 masih berada di US$281,3, yang berarti kenaikan hampir 41% dalam waktu kurang dari tiga bulan.

    Supply Shock, Cuaca Buruk dan Produksi yang Terpukul

    Salah satu faktor utama yang mendorong harga kopi adalah gangguan pada sisi pasokan. Cuaca ekstrem menghantam sejumlah negara produsen utama. Brasil, yang menguasai sekitar 40% pasar kopi global, mengalami cuaca kering berkepanjangan, disusul hujan deras yang merusak tanaman. Hal ini memperburuk efek dari frost tahun lalu yang telah memangkas produksi.

    Sementara itu, Vietnam, produsen robusta terbesar dunia, melaporkan hasil panen yang lebih rendah akibat badai yang melanda pada akhir 2024. Produksi kopi robusta Vietnam bahkan diprediksi turun hingga 10%, menjadikannya salah satu hasil terendah dalam satu dekade.

    Di Amerika Tengah, dampak badai tropis juga terasa di beberapa negara produsen seperti Kosta Rika, yang kehilangan sekitar 15% dari total produksi tahunannya akibat banjir dan tanah longsor. Peristiwa ini tidak hanya mengurangi jumlah kopi yang masuk ke pasar global, tetapi juga mengacaukan rantai pasok karena banyak pabrik pengolahan dan eksportir terdampak.

    Permainan Spekulan dan Sentimen Pasar

    Lonjakan harga kopi bukan hanya soal fundamental pasokan dan permintaan, tetapi juga dipengaruhi oleh spekulasi pasar. Hedge funds dan investor besar melihat peluang di tengah gangguan produksi, mendorong harga lebih tinggi melalui aksi beli agresif di pasar berjangka.

    Harga kontrak kopi di ICE Futures New York, yang dikenal sebagai “C price,” bahkan sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang sejarah, yaitu US$4,03 per pon. Dengan volatilitas seperti ini, para spekulan semakin aktif, memperbesar fluktuasi harga.

    Dinamika ini mencerminkan pola klasik di pasar komoditas, di mana kenaikan harga sering kali diikuti oleh aksi beli spekulatif yang mendorong harga naik lebih tinggi lagi. Akibatnya, pelaku industri seperti roaster dan distributor terpaksa membeli dengan harga lebih mahal, yang akhirnya juga berdampak pada konsumen akhir di kafe atau supermarket.

    Dampaknya ke Konsumen, Kopi Makin Mahal?

    Dengan kenaikan harga kopi yang signifikan, tidak heran jika harga segelas espresso atau kopi seduh di kafe-kafe juga ikut naik. Beberapa jaringan kafe besar mulai menyesuaikan harga menu mereka untuk mengimbangi lonjakan biaya bahan baku. Di sisi lain, para petani kecil di negara produsen belum tentu merasakan manfaat dari kenaikan harga ini, karena mereka masih bergulat dengan biaya produksi yang meningkat akibat inflasi dan gangguan cuaca.

    Apakah harga kopi akan terus naik? Banyak analis memperkirakan bahwa volatilitas masih akan berlanjut dalam beberapa bulan ke depan, terutama jika kondisi cuaca tetap tidak menentu dan aktivitas spekulasi di pasar berjangka terus berlanjut. Bagi pecinta kopi, bersiaplah merogoh kocek lebih dalam untuk menikmati secangkir kopi favorit.

    CNBC Indonesia Research(emb/emb)

    Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/research/20250210110537-128-609344/harga-kopi-dunia-ugal-ugalan-imbas-kiamat-alam-apa-upah-spekulan

  • Cengkeh Salah Satu Alasan Indonesia Dijajah

    Cengkeh Salah Satu Alasan Indonesia Dijajah

    Menurut sejarah, Indonesia selalu dijadikan lahan perebutan negara-negara lain, karena letak geografis, dan tanah yang subur membuat Indonesia menjadi suatu daerah yang sangat di idamkan negara lain.

    Hasil bumi yang melimpah seperti rempah-rempah yang sangat melimpah salah satu rempah-rempah yang berharga nilai jual tinggi adalah cengkih.

    Pada abad ke-2000 SM, Nusantara telah menjadi urat nadi perdagangan laut antara dunia barat dan timur. Komoditas yang diperjualbelikan kala itu termasuk lada dan jenis rempah lainnya.Masyarakat Maluku juga memperdagangkan cengkeh sampai ke Arab, India, dan Cina, pada abad 200 SM.

    Pada zaman penjajahan cengkeh merupakan hal yang lebih berharga daripada emas. Ketika Konstantinopel runtuh pada tahun 1453, jalur perdagangan rempah dari Asia Selatan terputus. Akibatnya harga cengkeh semakin meroket. Ekspedisi untuk mendapatkan rempah pada abad 16 bahkan bisa mendatangkan keuntungan hingga 400 persen.

    Dapat diketahui bahwa rempah-rempah dari Indonesia itu sudah memberi sumbangan bagi kemajuan peradaban dunia. Rempah-rempah telah digunakan untuk pengobatan, ritual keagamaan, masakan cita rasa tinggi, dan perawatan tubuh atau kecantikan. (TY/RED).

    Sumber :
    https://ppid.serangkota.go.id/detailpost/cengkeh-salah-satu-alasan-indonesia-di-jajah

  • Tembakau-Cengkeh RI Diburu Warga AS, Nasibnya Digantung Perang Dagang

    Tembakau-Cengkeh RI Diburu Warga AS, Nasibnya Digantung Perang Dagang

    Jakarta,CNBC Indonesia- Ekspor komoditas pertanian Indonesia ke Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan tren positif pada 2024, dengan total nilai mencapai US$460,12 juta atau sekitar Rp 7,49 triliun (US$ 1=Rp 16.290). Dari angka tersebut, kopi menjadi penyumbang terbesar, diikuti oleh rempah-rempah, lada, cengkeh, dan tembakau.

    Ekspor kopi Indonesia ke AS mencapai US$307,41 juta, atau 66,8% dari total ekspor pertanian ke AS.

    Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen kopi terbesar dunia dengan varietas unggulan seperti Sumatra, Java, dan Toraja. Produk ini memiliki cita rasa khas yang dicari oleh para pecinta kopi di AS.

    Besarnya konsumsi kopi di AS juga ikut mendorong besarnya permintaan impor dari AS.

    Dilansir dari NCA, AS merupakan salah satu konsumen kopi terbesar di dunia, dengan konsumsi mencapai 517 juta cangkir per hari.

    Keikutsertaan Indonesia dalam pameran Specialty Coffee Expo (SCE) 2024 di Chicago juga meningkatkan daya saing di pasar AS. Tahun ini, potensi transaksi yang dicatat dari acara tersebut mencapai US$27,1 juta naik 33% dibanding tahun lalu sebelumnya.

    AS memiliki regulasi ketat terhadap produk makanan dan minuman yang masuk, termasuk kopi. Food and Drug Administration (FDA) mewajibkan semua importir kopi untuk mendaftarkan fasilitas produksinya, melakukan inspeksi, dan memenuhi standar labeling sebelum memasuki pasar AS.

    Selain kopi, rempah-rempah Nusantara juga merajalela. Sejarah ekspor rempah Indonesia sudah ada sejak era kolonial. Hingga kini, produk seperti lada hitam, lada putih, cengkeh, dan pala masih memiliki permintaan tinggi di pasar AS. Total ekspor tanaman obat, aromatik, dan rempah-rempah ke AS mencapai  US$45,91 juta, sementara lada hitam dan lada putih masing-masing menyumbang US$27,33 juta dan US$18,03 juta.

    Adanya tren kuliner global dan meningkatnya kesadaran akan makanan sehat mendorong permintaan rempah-rempah, terutama dalam industri makanan organik dan farmasi.

    Sama seperti kopi, impor rempah-rempah ke AS harus memenuhi standar FDA, termasuk uji laboratorium bebas kontaminasi dan residu pestisida. Selain itu, produk juga harus memenuhi regulasi United States Department of Agriculture (USDA) terkait standar keamanan pangan dan keberlanjutan produksi.

    Selain bahan pangan, tembakau muncul sebagai sektor yang terus bertahan. Tembakau bukanlah komoditas baru dalam hubungan perdagangan Indonesia-AS. Meskipun AS memiliki produksi tembakau domestik, industri rokoknya tetap mengimpor tembakau dari luar negeri, termasuk Indonesia. Pada 2024, ekspor tembakau Indonesia ke AS tercatat US$5,31 juta.

    Meskipun konsumsi rokok di AS menurun, permintaan untuk produk tembakau masih ada, terutama untuk cerutu dan produk tembakau premium. Indonesia dikenal sebagai penghasil tembakau berkualitas tinggi, yang digunakan dalam campuran berbagai merek internasional.

    Industri tembakau AS diatur ketat oleh FDA melalui Family Smoking Prevention and Tobacco Control Act. Semua produk tembakau yang diimpor ke AS harus terdaftar, diuji kandungan nikotin dan tar-nya, serta memiliki label peringatan kesehatan

    Nasib Komoditas RI Era Trump
    Presiden AS Donald Trump memerintahkan pemerintahannya untuk mempertimbangkan penerapan tarif timbal balik atau resiprokal pada banyak mitra perdagangan. Trump menganggap sistem tarif saat ini tidak adil bagi AS.

    Pada Kamis 913/2/2025), Trump menandatangani memorandum presiden yang merinci rencana besarnya untuk memberlakukan tarif resiprokal atau imbal balik kepada mitra-mitra dagang AS.
    Perintah ini akan mengarahkan Perwakilan Perdagangan AS dan Menteri Perdagangan untuk mengusulkan bea masuk baru secara per negara sebagai upaya untuk menyeimbangkan kembali hubungan perdagangan.

    Proses ini diperkirakan bisa memakan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk diselesaikan. Howard Lutnick, calon Menteri Departemen Perdagangan, mengatakan kepada wartawan bahwa semua studi harus selesai pada 1 April dan Trump bisa bertindak segera setelahnya

    Dari sisi defisit, Indonesia sebenarnya menjadi salah satu penyumbang terbesar defisit terbesar buat AS.

    Namun, dari sisi penyuplai impor, nilai impor Indonesia masih sangat kecil. Data Kementerian Perdagangan mencatat impor AS dari Indonesia pada 2024 mencapai US$ 26,31 miliar. Angka ini jauh di atas negara lain seperti Meksiko.

    Trump memang dikenal protektif terhadap ekonomi dalam negeri, termasuk dengan mengurangi impor. Namun, sejauh ini belum ada kabar jika Trump berniat menaikkan tarif impor untuk produk Indonesia, terutama pertanian. Apalagi, ekspor pertanian RI ke AS bukanlah ancaman bagi petani AS.

    Sumber :
    https://www.cnbcindonesia.com/research/20250213150559-128-610417/tembakau-cengkeh-ri-diburu-warga-as-nasibnya-digantung-perang-dagang